BAWEAN, mediabarometer.net — Pembukaan Hari Besar Bawean (HBB) ke-425 berlangsung di Alun-Alun Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, pada Rabu, 7 Oktober 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum perayaan dan hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk membicarakan berbagai potensi dan persoalan yang masih menjadi perhatian masyarakat Bawean.
Sejumlah isu turut mengemuka dalam rangkaian kegiatan tersebut, mulai dari transportasi, lingkungan, sumber daya alam, hingga pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta keberlangsungan dunia usaha lokal.
Ketua Panitia HBB ke-425, Abdul Halim, dalam sambutannya menekankan pentingnya mendorong kemajuan UMKM di Pulau Bawean.
Menurutnya, momentum HBB dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan berbagai produk unggulan Bawean.
Dorongan terhadap UMKM dinilai penting mengingat Bawean memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Selain produk olahan masyarakat, sektor perikanan dan hasil tangkapan nelayan juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Sementara itu, Camat Sangkapura dalam sambutannya turut menyoroti sejumlah persoalan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat, salah satunya mengenai transportasi laut.
Ia menyampaikan bahwa aspirasi masyarakat terkait persoalan transportasi telah disampaikan melalui surat dari kepala desa di seluruh Pulau Bawean kepada Bupati Gresik.
Aspirasi tersebut telah diterima dan diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam mencari solusi terbaik bagi masyarakat.
Selain transportasi, persoalan lingkungan dan ketersediaan sumber air juga menjadi perhatian. Kondisi penebangan pohon dinilai berpotensi memengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air.
Karena itu, masyarakat didorong untuk memperkuat gerakan penghijauan. Salah satu tanaman yang disebut memiliki manfaat bagi lingkungan sekaligus nilai ekonomi adalah pohon sukun.
Persoalan pemanfaatan pasir Bawean juga menjadi bagian dari pembahasan. Meningkatnya kebutuhan pembangunan dinilai perlu diimbangi dengan perhatian terhadap keberlanjutan sumber daya alam.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah mendatangkan pasir dari daerah lain, termasuk Lumajang, sebagai alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya pasir lokal.
Di sisi lain, Faisol dalam sambutannya memberikan perhatian terhadap potensi UMKM dan hasil perikanan Bawean.
Ia mendorong agar produk masyarakat tidak hanya dipasarkan di wilayah lokal, tetapi terus dikembangkan sehingga memiliki daya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Menurutnya, potensi ekonomi Bawean cukup besar apabila dikelola secara serius, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengolahan, kemasan hingga strategi pemasaran.
“Bagaimana produk yang ada di Pulau Bawean bisa kita dorong untuk masuk ke pasar internasional,” menjadi salah satu gagasan yang disampaikan Faisol.
Dorongan tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku UMKM Bawean. Selain kualitas produk, pelaku usaha juga membutuhkan kemasan yang baik, legalitas, kontinuitas produksi serta jaringan pemasaran yang lebih luas.
Di tengah dorongan untuk memperkuat UMKM dan dunia usaha, seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan turut menyampaikan pandangannya mengenai posisi pengusaha lokal dalam berbagai kegiatan di Pulau Bawean.
Menurutnya, pengusaha yang berada di Bawean merupakan bagian dari masyarakat dan dapat menjadi mitra dalam mendukung perkembangan ekonomi daerah.
Ia berharap keterlibatan dunia usaha dalam berbagai kegiatan masyarakat tetap dilakukan secara proporsional dan memperhatikan kemampuan masing-masing pelaku usaha.
“Pengusaha yang ada di Pulau Bawean seharusnya mendapatkan perlindungan dan dukungan agar usahanya bisa berkembang. Jangan sampai setiap ada kegiatan, mereka justru merasa terbebani. Kalau kita ingin UMKM dan dunia usaha di Bawean maju, pengusaha lokal juga harus diberi ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Menurut warga tersebut, kontribusi pengusaha dalam kegiatan masyarakat pada prinsipnya merupakan hal yang positif apabila dilakukan secara sukarela dan sesuai kemampuan.
Namun, ia berharap setiap kegiatan yang melibatkan dukungan dari masyarakat maupun dunia usaha dapat diselenggarakan secara terbuka, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
“Bukan berarti pengusaha tidak boleh ikut berpartisipasi. Justru pengusaha lokal bisa menjadi mitra dalam kegiatan masyarakat. Yang penting semuanya jelas, wajar dan transparan,” katanya.
Ia juga berharap ke depan perhatian terhadap UMKM tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi dan pemasaran, tetapi juga pada terciptanya iklim usaha yang memberikan ruang bagi pengusaha lokal untuk berkembang.
Menurutnya, upaya mendorong produk Bawean menuju pasar yang lebih luas perlu berjalan beriringan dengan penguatan pelaku usaha yang berada di Pulau Bawean.
Peringatan HBB ke-425 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut dapat menjadi ruang bersama untuk membicarakan masa depan Bawean secara lebih luas.
Transportasi yang semakin baik, lingkungan yang terjaga, sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan, UMKM yang semakin kuat serta dunia usaha lokal yang memiliki ruang untuk berkembang menjadi bagian penting dalam pembangunan Pulau Bawean.
Dengan semangat HBB ke-425, berbagai gagasan dan aspirasi masyarakat diharapkan dapat menjadi bahan perhatian bersama bagi pemerintah, pelaku usaha dan seluruh masyarakat dalam mendorong kemajuan Bawean secara berkelanjutan.
( A.latif )








Komentar