Pamekasan, Madura, mediabarometer.net – Moderasi beragama pada dasarnya bukanlah upaya untuk mengurangi keyakinan atau mencampuradukkan ajaran agama. Moderasi beragama adalah cara kita menjalankan agama secara adil, seimbang, dan bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.
Kita boleh meyakini bahwa agama yang kita anut adalah yang paling benar. Namun, keyakinan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain. Justru kedewasaan seseorang dalam beragama terlihat ketika ia mampu mempertahankan keyakinannya dengan teguh, sekaligus menghormati perbedaan dengan santun. Artinya, yang perlu dimoderasi bukanlah agamanya, melainkan cara kita memahami dan menjalankan ajaran agama dalam ruang sosial.
Dalam konteks keindonesiaan, moderasi beragama memiliki empat indikator utama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Empat pilar ini sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa.
Komitmen kebangsaan berarti menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Toleransi berarti tetap menghormati teman yang berbeda agama atau berbeda praktik keagamaan tanpa memaksakan pendapat. Anti-kekerasan berarti menolak segala bentuk pemaksaan atas nama agama. Sementara akomodatif terhadap budaya lokal berarti menghargai tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip keyakinan.
Dalam Islam, semangat ini sejalan dengan konsep ummatan wasathan dalam QS. Al-Baqarah ayat 143, yang menekankan umat yang berada di tengah, seimbang, dan adil. Dengan demikian, semakin baik pemahaman agama seseorang, seharusnya semakin baik pula sikap sosial dan kemanusiaannya.
Kita harus menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Keragaman tidak hanya antar-agama, tetapi juga di dalam internal agama itu sendiri. Dalam Islam, misalnya, terdapat perbedaan praktik seperti tahlilan, maulid, hingga persoalan fikih lainnya. Perbedaan tersebut adalah dinamika pemikiran keagamaan yang wajar untuk didiskusikan secara ilmiah.
Persoalan muncul ketika seseorang merasa pendapatnya paling benar, kemudian menyalahkan dan mengucilkan orang lain. Karena itu, mahasiswa sebagai kaum intelektual perlu membangun sikap kritis sekaligus menghargai perbedaan. Boleh berbeda dalam pemahaman, tetapi jangan sampai perbedaan itu merusak persaudaraan dan kemanusiaan.
Tantangan moderasi beragama saat ini semakin kompleks. Kehidupan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari media sosial dan kecerdasan buatan (AI). Kita sering menemukan potongan ceramah, perdebatan agama, hingga konten provokatif yang viral di TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Tidak semua informasi viral memiliki dasar keilmuan yang benar.
Algoritma media sosial bahkan dapat menjebak kita dalam echo chamber, di mana kita hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangan sendiri sehingga sulit menerima perspektif berbeda.
Oleh karena itu, mahasiswa harus memiliki kemampuan tabayyun — memeriksa sumber, memahami konteks, dan membandingkan informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. AI pun seharusnya diposisikan sebagai alat bantu belajar, bukan satu-satunya rujukan dalam menetapkan hukum agama. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memperluas pengetahuan justru mempersempit cara berpikir dan memperbesar kebencian.
Pada akhirnya, moderasi beragama tidak cukup hanya dipahami sebagai teori di ruang seminar atau perkuliahan. Ia harus menjadi karakter dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam membangun kehidupan yang toleran, damai, dan berkeadaban. Mulailah dari hal sederhana: menghormati teman yang berbeda keyakinan, tidak menyebarkan ujaran kebencian, menyelesaikan perbedaan melalui dialog, dan bekerja sama dalam kegiatan sosial tanpa membedakan latar belakang agama.
Moderasi beragama bukan berarti semua orang harus memiliki keyakinan yang sama. Moderasi adalah bagaimana orang yang berbeda keyakinan tetap dapat hidup berdampingan secara damai.
Mari kita menjadi generasi yang teguh dalam keyakinan, santun dalam perbedaan, dan bersatu dalam kemanusiaan.
Beragama tanpa membenci, berbeda tanpa memusuhi
Oleh : Musykurotus Syarifah, M.,HI ( Warek 1 IAI NAZHATUT THULLAB Sampang & Fasilitator Moderasi Beragama Kemenag RI )
( Cak Mus )








Komentar