oleh

Petani Milenial Modal Pribadi Rp20 Juta, Warga Pertanyakan Dana Ketahanan Pangan Desa Sungai Rujing

banner 468x60

Sangkapura, Gresik – mediabarometer.net – Program ketahanan pangan di Desa Sungai Rujing, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, kembali menjadi sorotan. Di tengah program yang kerap digaungkan sebagai prioritas pembangunan desa, seorang petani milenial justru harus bergerak mandiri dengan menggunakan modal pribadi, Kamis (5/3/2026).

Fandy adalah warga Desa Sungai Rujing, yang berinisiatif mengembangkan pertanian hortikultura dengan modal sekitar Rp20 juta, termasuk untuk biaya sewa lahan. Dengan modal tersebut, ia menanam berbagai komoditas seperti kacang panjang, timun, cabai rawit, tomat, buncis, dan terong.

banner 336x280

Kini, tanaman tersebut mulai memasuki masa panen secara bertahap dan hasilnya sudah mulai membantu memenuhi kebutuhan sayur bagi masyarakat sekitar.

“Bertani sudah menjadi hobi bagi saya. Kalau bisa menanam dan hasilnya dinikmati masyarakat, itu sudah cukup bagi saya. Soal bantuan, sampai sekarang belum ada, jadi saya pakai modal sendiri dulu,” ujar Fandy.

Langkah mandiri yang dilakukan Fandy turut mendapat tanggapan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Sangkapura, A.n Muhammad Hafiz. Ia menilai apa yang dilakukan petani milenial tersebut merupakan contoh keseriusan dalam mengembangkan sektor pertanian desa.

“Pak Fandy ini petani milenial yang punya kemauan kuat. Dengan modal sendiri, bahkan harus menyewa lahan, beliau tetap berani menanam berbagai komoditas. Ini patut diapresiasi,” ujar Muhammad Hafiz.

Menurutnya, sektor pertanian di Desa Sungai Rujing sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar apabila didukung secara optimal. Ia juga menegaskan bahwa program ketahanan pangan desa seharusnya benar-benar menyentuh pelaku usaha tani yang aktif di lapangan.

“Kalau memang ada alokasi untuk ketahanan pangan, idealnya bisa memperkuat petani yang sudah berjalan. Dukungan bisa berupa bibit, sarana produksi, atau penguatan kelompok tani agar dampaknya lebih terasa,” tambahnya.

Di tengah keberanian Fandy memulai usaha pertanian secara mandiri, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai realisasi dana ketahanan pangan di Desa Sungai Rujing.

Sebagaimana diketahui, ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas penggunaan Dana Desa yang secara aturan dapat dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sejumlah warga berharap adanya transparansi dan penjelasan terbuka terkait penggunaan anggaran tersebut. Mereka menilai, jika memang dana itu tersedia, semestinya manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh petani kecil yang benar-benar mengelola lahan.

Langkah yang dilakukan Fandy menjadi gambaran bahwa potensi pertanian di Sungai Rujing nyata adanya. Kini masyarakat berharap adanya sinergi antara inisiatif warga dan kebijakan pemerintah desa, agar program ketahanan pangan tidak sekadar tertulis di atas kertas, tetapi benar-benar tumbuh dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

( A.latif )

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *