BAWEAN, mediabarometer.net – Pemberitaan mengenai seorang ibu hamil asal Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, yang kesulitan mendapatkan akses menuju rumah sakit rujukan, membuka persoalan lebih luas tentang layanan kesehatan masyarakat kepulauan.
Kasus Issiyeh (39), ibu hamil anak kedua yang memiliki riwayat operasi caesar dan disebut mengalami posisi bayi sungsang, tidak hanya berbicara mengenai kondisi medis seorang pasien.
Di balik perjuangan keluarganya mencari tiket pesawat, terdapat persoalan lain yang perlu mendapat perhatian serius: sejauh mana sistem rujukan pasien dari Pulau Bawean telah disiapkan ketika transportasi laut tidak dapat beroperasi?
Berdasarkan pemberitaan BeritaGresik.com, pada Jumat, 11 September 2026, kondisi cuaca membuat kapal yang biasa menghubungkan Bawean dengan daratan tidak beroperasi. Gelombang laut disebut mencapai sekitar dua meter disertai angin kencang.
Kapal cepat Express Bahari maupun KMP Gili Iyang tidak dapat menjadi pilihan transportasi.
Dalam kondisi tersebut, pesawat menjadi alternatif. Namun, masalah baru muncul karena kapasitas penerbangan terbatas dan keluarga pasien disebut tidak lagi dapat memperoleh tiket emergency.
Suami pasien, Suni, bahkan bersama keluarga mendatangi Bandara Harun Thohir Bawean sejak sekitar pukul 06.00 WIB untuk mencari kemungkinan mendapatkan tiket.
Namun, keluarga hanya bisa menunggu apabila ada penumpang yang membatalkan keberangkatannya.
Ketika Tiket Menentukan Akses Pasien Menuju Rumah Sakit
Di sinilah persoalan tersebut menjadi penting untuk dikaji.
Bagi penumpang biasa, kursi pesawat merupakan bagian dari perjalanan. Tetapi bagi pasien yang membutuhkan rujukan medis, ketersediaan transportasi dapat menjadi bagian dari proses mendapatkan pelayanan kesehatan.
Keluarga menyebut tidak adanya lagi kuota tiket emergency membuat mereka harus mencari kursi dari penumpang yang membatalkan penerbangan.
Kepala Desa Sukaoneng Abdul Hayyi juga ikut mencari tiket untuk warganya.
Ia mempertanyakan mengapa fasilitas emergency yang sebelumnya disebut pernah tersedia kini tidak lagi dapat digunakan.
Situasi tersebut patut menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama karena Bawean memiliki karakter geografis sebagai wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut dan udara.
Bukan Hanya Masalah Tiket
Persoalan Issiyeh sebenarnya tidak berhenti pada tiket pesawat.
Pasien awalnya diarahkan ke RSUD Umar Mas’ud Bawean. Namun, dokter spesialis kandungan disebut sedang berada di Jawa sehingga rujukan kemudian diarahkan menuju RSUD Ibnu Sina Gresik.
Artinya, pasien bukan hanya menghadapi persoalan jarak, tetapi juga persoalan ketersediaan tenaga spesialis di pulau.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dr. Mukhibatul Khusna membenarkan dokter spesialis kandungan RSUD Umar Mas’ud sedang berada di Jawa.
Menurutnya, pasien sebelumnya telah diingatkan untuk datang ke rumah sakit sebelum dokter tersebut berangkat. Namun, pasien disebut belum bersedia datang pada waktu itu.
Dokter spesialis tersebut direncanakan kembali ke Bawean pada 19 September 2026, meskipun Dinas Kesehatan berharap kepulangannya dapat dipercepat apabila memungkinkan.
Perlu Ada Sistem Darurat yang Jelas
Kasus ini kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan yang layak dijawab secara terbuka.
Bagaimana prosedur pasien rujukan apabila kapal tidak dapat berlayar ?
Apakah terdapat mekanisme khusus bagi pasien dengan kondisi medis tertentu untuk mendapatkan prioritas penerbangan ?
Siapa yang memiliki kewenangan menentukan pasien yang harus mendapatkan transportasi darurat?
Dan ketika penerbangan penuh, apakah terdapat skema koordinasi antara Dinas Kesehatan, pemerintah kecamatan, bandara, operator penerbangan, dan rumah sakit rujukan?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mencari siapa yang harus dipersalahkan.
Sebaliknya, persoalan ini penting agar kejadian serupa tidak kembali menempatkan keluarga pasien dalam situasi menunggu keberuntungan dari kursi pesawat yang kosong.
Bawean dan Tantangan Pelayanan Kesehatan Kepulauan
Kasus Issiyeh menjadi gambaran bahwa pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan memiliki tantangan yang berbeda dengan wilayah daratan.
Ketersediaan puskesmas dan rumah sakit memang penting. Tetapi ketika pasien membutuhkan dokter spesialis yang tidak tersedia di pulau, persoalan berikutnya adalah bagaimana pasien dapat mencapai rumah sakit rujukan dengan cepat dan aman.
Ketika laut bersahabat, kapal menjadi pilihan.
– Ketika cuaca buruk, pesawat menjadi salah satu alternatif.
– Namun ketika kapal tidak beroperasi dan pesawat penuh, maka sistem rujukan membutuhkan mekanisme khusus agar pasien tidak terjebak dalam ketidakpastian.
– Karena itu, kasus ini seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama.
– Bukan hanya mengenai tiket emergency, tetapi juga kesiapan sistem evakuasi medis, ketersediaan dokter spesialis, koordinasi antarinstansi, serta pola rujukan pasien dari Bawean menuju daratan Gresik.
– Keselamatan Ibu dan Bayi Harus Menjadi Prioritas
Pada akhirnya, persoalan utama dalam kasus ini bukan siapa yang paling benar atau siapa yang harus disalahkan.
Yang paling penting adalah keselamatan ibu dan bayi.
Keluarga Issiyeh kini berada dalam situasi menunggu kepastian. Mereka membutuhkan akses menuju fasilitas kesehatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat kepulauan, akses kesehatan bukan hanya soal tersedianya rumah sakit, tetapi juga tersedianya jalan untuk mencapai rumah sakit tersebut ketika keadaan darurat terjadi.
Pemberitaan mengenai Issiyeh hendaknya menjadi bahan evaluasi agar ke depan tidak ada lagi pasien rujukan dari Bawean yang harus menunggu tiket batal hanya karena tidak tersedia mekanisme transportasi darurat yang jelas.
Sebab dalam kondisi medis tertentu, waktu bukan sekadar angka. Waktu bisa menentukan keselamatan seorang ibu dan bayi yang sedang menunggu pertolongan.
( A.latif )














Komentar