oleh

Kapal Tidak Beroperasi, Perantau Malaysia Gagal Pulang ke Bawean, Tak Sempat Temui Ibu Hingga Meninggal

banner 468x60

Bawean,Gresik, mediabarometer.net — Cuaca buruk disertai gelombang laut tinggi menyebabkan layanan transportasi laut lintasan Bawean–Gresik dan Bawean–Paciran tidak beroperasi sejak sepekan terakhir. Kondisi tersebut mengakibatkan ratusan calon penumpang tertahan di Pelabuhan Gresik dan sekitarnya.

Para penumpang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pasien, aparatur sipil negara (ASN), hingga perantau yang hendak kembali ke Pulau Bawean. Sebagian di antaranya terpaksa menginap di sejumlah penginapan di sekitar pelabuhan sambil menunggu cuaca membaik.

banner 336x280

Salah satu penumpang yang mengalami musibah adalah Sanwari (50), perantau asal Dusun Kuduk-kuduk, Desa Patarselamat, Kecamatan Sangkapura. Pria yang telah 25 tahun bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia tersebut gagal pulang untuk menemui ibunya yang sedang sakit.

Sanwari diketahui tiba di Indonesia pada Jumat (9/1/2026) dengan niat menyeberang ke Bawean melalui KMP Gili Iyang atau kapal cepat. Namun, seluruh layanan pelayaran dihentikan akibat gelombang laut tinggi. Kabar meninggalnya sang ibu diterima pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 05.00 WIB, sebelum dirinya sempat kembali ke kampung halaman.

Disebutkan, Sanwari terakhir kali pulang ke Bawean dua tahun lalu dan selama ini hanya dapat kembali setiap dua hingga lima tahun sekali karena bekerja di luar negeri. Keinginannya untuk pulang guna merawat sang ibu tidak dapat terwujud karena kondisi cuaca dan tidak beroperasinya kapal penyeberangan.

Selain menahan kerinduan terhadap keluarga, para calon penumpang juga menghadapi kesulitan ekonomi akibat lamanya penundaan pelayaran. Biaya penginapan dan kebutuhan harian disebut semakin menipis setelah hampir sepekan tertahan di Gresik.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Maswadi, pegawai perikanan Provinsi Jawa Timur, yang bersama rombongan berjumlah 12 orang turut tertahan di Gresik. Mereka berharap pemerintah segera menyediakan kapal bantuan agar aktivitas pemerintahan dan pelayanan publik di Pulau Bawean tidak terganggu.

Diketahui, sejak 9 Januari 2026 pelayaran lintasan Bawean–Paciran ditunda akibat gelombang laut yang mencapai sekitar dua meter. KMP Gili Iyang hingga kini belum kembali beroperasi. Sementara itu, pelayaran dari Pelabuhan Gresik yang dijadwalkan berangkat pada 10 Januari 2026 juga batal diberangkatkan karena kondisi cuaca ekstrem.

( A. Latif )

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *