Gresik, mediabarometer.net – Pembangunan rumah bantuan korban gempa bumi yang dilaksanakan oleh pihak aplikator di Dusun Bakung, Desa Suwari, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, menuai sorotan. Proyek ini merupakan bagian dari program pemulihan pascabencana yang bertujuan menyediakan hunian layak bagi warga terdampak. Namun, dalam pelaksanaannya, sejumlah keluhan dan dugaan pelanggaran standar teknis mencuat ke permukaan.
Rumah milik Salikin, salah satu penerima manfaat, menjadi contoh kasus yang mencolok. Rumah yang dibangun melalui program bantuan tersebut dinilai dikerjakan secara asal-asalan, dengan kualitas yang dipertanyakan dan progres pembangunan yang belum rampung. Kamis (22/5/2025).
Pihak penerima manfaat menyampaikan sejumlah keluhan serius, termasuk ketidaksesuaian teknis dan ketidaklengkapan bangunan. Salah satu persoalan mencolok adalah terkait pembuatan septic tank. Sigit, pelaksana dari pihak aplikator, sebelumnya menyatakan bahwa kedalaman septic tank mencapai dua meter. Namun hasil pengecekan di lapangan menunjukkan kedalamannya hanya sekitar satu meter. Mirisnya, penggalian dilakukan sendiri oleh pemilik rumah karena tidak ada tindak lanjut dari pihak pelaksana.
Kondisi serupa terjadi pada pembangunan kamar mandi. Fasilitas sanitasi tersebut tidak dilengkapi dengan bak penampungan air, hanya berupa jamban sederhana. Ukurannya pun sangat terbatas, sekitar satu meter persegi, dan belum diplester. Kondisi ini tidak memenuhi standar minimum kebersihan maupun kenyamanan.
Selain itu, dua kamar tidur dalam rumah tersebut belum memiliki daun pintu. Beberapa daun pintu yang telah terpasang pun menggunakan material berkualitas rendah. Akibatnya, pintu tersebut rusak hanya dalam dua hari setelah dipasang. Fakta ini menunjukkan lemahnya pengawasan serta minimnya komitmen terhadap kualitas dan kelayakan bangunan.
Pada Jumat, 16 Mei 2025, Sigit selaku pelaksana dari aplikator sempat menyampaikan kepada awak media bahwa pembangunan akan selesai dalam dua hari. Namun hingga Kamis, 22 Mei 2025, kondisi rumah masih jauh dari tuntas. Selain lambat, pengerjaan juga dinilai asal jadi dan mengabaikan standar mutu konstruksi.
Kekecewaan pun disampaikan pihak penerima manfaat. Rumah yang diharapkan menjadi solusi atas kebutuhan tempat tinggal layak justru menimbulkan beban tambahan karena tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Kelalaian dalam pelaksanaan proyek ini menimbulkan pertanyaan terkait komitmen, tanggung jawab, dan integritas pihak aplikator.
Warga sekitar turut menyayangkan kondisi tersebut. Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh serta tindakan tegas dari instansi terkait agar kejadian serupa tidak terulang di wilayah lain. Transparansi dan pengawasan ketat mutlak diperlukan agar program bantuan benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
(A. Latif )
*To be Continue











Komentar